SURAKARTA, Infoliputan.com – Musik keroncong kembali menggema di Pendopo Ageng Gendhon Humardani, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jebres, Surakarta, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pentas musik keroncong yang dimulai pukul 19.30 WIB ini menghadirkan dua grup musik keroncong, yakni Orkes Keroncong (OK.) Balarama dari Cepogo, Kabupaten Boyolali, dan OK. Harmony dari Kasepuhan, Kabupaten Batang.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan musik keroncong sebagai bagian dari kekayaan seni dan budaya Indonesia, sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat lintas generasi.
Acara secara resmi dibuka oleh Hermanto, SE, selaku Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubag TU) Taman Budaya Jawa Tengah. Dalam sambutannya, Hermanto: menyampaikan bahwa pentas musik keroncong memiliki peran penting dalam melestarikan dan mengenalkan musik keroncong kepada masyarakat luas.
Menurutnya, musik keroncong merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang perlu terus dijaga eksistensinya. Melalui kegiatan pementasan seperti ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal, menghargai, dan mencintai musik keroncong, terutama kalangan generasi muda.
Upaya tersebut dinilai penting agar musik keroncong tidak hanya dikenang sebagai musik dari masa lalu, tetapi juga tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Dua Grup Keroncong Tampilkan Kemampuan Terbaik
Penampilan OK. Balarama dari Cepogo, Kabupaten Boyolali, dan OK. Harmony dari Kasepuhan, Kabupaten Batang, menjadi sajian utama dalam pentas tersebut. Kedua grup menghadirkan nuansa khas musik keroncong melalui perpaduan instrumen, irama, serta lantunan lagu yang akrab di telinga para pencintanya.
Para biduan dan biduanita tampil dengan baik dalam membawakan lagu-lagu keroncong. Penampilan mereka menghadirkan suasana hangat dan penuh nostalgia, sekaligus mengobati kerinduan penonton terhadap alunan musik yang dikenal memiliki karakter lembut, harmonis, dan sarat nilai tradisi.
Pentas ini juga menjadi ruang apresiasi bagi para pelaku seni musik keroncong untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mempertahankan eksistensi kesenian tersebut di tengah perkembangan musik modern.
Antusiasme Penonton Tetap Terjaga
Penonton yang hadir didominasi kalangan usia paruh baya, sementara jumlah penonton dari kalangan anak muda masih relatif sedikit. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi antusiasme penonton dalam menikmati setiap penampilan yang disuguhkan.
Suasana pendopo terasa hidup ketika alunan musik keroncong mengisi ruang pertunjukan. Para penonton menikmati sajian musik yang mengingatkan mereka pada kekayaan tradisi musikal Indonesia.
Kehadiran penonton lintas usia sekaligus menjadi gambaran bahwa musik keroncong masih memiliki tempat di hati masyarakat. Tantangan berikutnya adalah memperluas jangkauan apresiasi, khususnya kepada generasi muda, agar mereka turut mengenal dan melanjutkan tradisi tersebut.
Menjaga Keroncong agar Tetap Hidup
Pentas musik keroncong di Taman Budaya Jawa Tengah tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya merawat warisan budaya. Keberlanjutan musik keroncong membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku seni, komunitas, hingga masyarakat sebagai penikmatnya.
Melalui ruang pertunjukan yang berkelanjutan, musik keroncong diharapkan dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakter dan nilai tradisionalnya. Pelibatan generasi muda, pengenalan musik keroncong melalui berbagai media, serta penyelenggaraan kegiatan seni secara rutin dapat menjadi langkah untuk memperkuat keberadaan musik keroncong di masa mendatang.
Pentas yang menghadirkan OK. Balarama dan OK. Harmony ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya akan tetap hidup selama ada pihak yang memainkan, mengenalkan, mengapresiasi, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.













