SURAKARTA, infoliputan.com – Rangkaian kegiatan Festival Pesta Sandiwara 2026 memasuki hari terakhir pada Sabtu (7/11/2026), bertempat di Gedung Teater Besar Gendhon Humardani, lingkungan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Festival yang berlangsung selama dua hari, 6–7 November 2026 ini mengangkat tema “Seni Tradisi: Dari Bentuk ke Metodologi”, dengan pusat kegiatan di sejumlah titik strategis kampus, termasuk Pendopo dan Gedung Teater Besar Gendhon Humardani ISI Surakarta.
Pesta Sandiwara 2026 menjadi ruang apresiasi sekaligus pertemuan berbagai bentuk seni pertunjukan tradisional Nusantara. Melalui semangat kolaborasi dan kreativitas, kegiatan ini mempertemukan maestro seni peran, komunitas seni, mahasiswa, dosen, serta kalangan akademisi untuk bersama-sama merawat dan mengembangkan kekayaan seni tradisi Indonesia.
Pada panggung apresiasi seni di hari terakhir, penonton disuguhkan lima pertunjukan dari berbagai tradisi teater Nusantara. Kelima penampilan tersebut meliputi:
- Wayang Wong – “Pancartha Kalimasada”
- Kethoprak – “Dhampar Kesampar”
- Topeng Pajegan Bali – “Rajadharma”
- Sandur Bojonegoro – “Poleng”
- Wayang Topeng Malang – “Reraket”
Kelima pertunjukan tersebut menghadirkan kekayaan ekspresi seni tradisi dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing memiliki karakter, gaya pementasan, serta kekhasan budaya yang menjadi bagian penting dari warisan seni pertunjukan Nusantara.

Para penampil berasal dari kalangan mahasiswa dan dosen ISI Surakarta, sanggar seni, serta berbagai komunitas seni. Keterlibatan beragam unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian seni tradisi membutuhkan ruang perjumpaan dan kerja sama lintas generasi maupun komunitas.
Antusiasme masyarakat terhadap festival ini terlihat dari penuhnya Gedung Teater Besar Gendhon Humardani. Ruangan pertunjukan dipadati penonton yang didominasi kalangan kawula muda. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki daya tarik tersendiri ketika dihadirkan melalui ruang apresiasi yang terbuka, kreatif, dan dekat dengan kehidupan generasi sekarang.
Tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni di dalam gedung, Pesta Sandiwara 2026 juga mengintegrasikan kegiatan seni dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Pesona UMKM dan Pasar Rakyat. Berbagai stan kuliner tradisional dan hidangan khas lokal meramaikan area sekitar halaman Teater Besar.
Kegiatan pasar rakyat tersebut melibatkan pelaku UMKM dari Kelurahan Jebres, Surakarta. Pengunjung dan mahasiswa dapat menikmati aneka sajian kuliner lokal sembari menyaksikan suasana festival di area terbuka. Kehadiran pasar rakyat ini sekaligus memberikan kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk memperkenalkan produk serta memperluas jangkauan pasar.
Penyelenggaraan Pesta Sandiwara 2026 tidak sekadar menjadi agenda pertunjukan, tetapi juga menjadi upaya membangun ekosistem seni dan budaya yang melibatkan akademisi, seniman, komunitas, generasi muda, hingga pelaku ekonomi lokal.
Melalui tema “Seni Tradisi: Dari Bentuk ke Metodologi”, festival ini membawa pesan penting bahwa seni tradisi bukan hanya warisan masa lalu yang dipertahankan bentuknya, melainkan sumber pengetahuan, kreativitas, dan metode berkesenian yang terus dapat dikembangkan mengikuti perkembangan zaman.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan Pesta Sandiwara 2026, diharapkan semangat kolaborasi yang terbangun dapat terus berlanjut. Seni tradisi teater Nusantara diharapkan tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi muda serta masyarakat luas sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa.













