Oleh: Budi
Setiap tahun, momentum Hari Kebangkitan Nasional mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menengok kembali sejarah kelahiran kesadaran berbangsa pada tahun 1908. Kini, lebih dari satu abad kemudian, makna “kebangkitan” telah bergeser. Jika dulu perjuangan adalah melawan penjajahan fisik, hari ini kita dihadapkan pada tantangan krisis multidimensi yang kompleks. Tema yang diusung tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa dan Kedaulatan Negara”, bukan sekadar slogan seremonial, melainkan sebuah alarm nyata yang harus segera dijawab oleh seluruh elemen bangsa.
Ujian kedaulatan saat ini sangat terasa di sektor ekonomi, salah satunya ditandai dengan tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar angka statistik yang bergerak di layar bursa, melainkan getaran nyata yang dirasakan langsung oleh rakyat. Dampaknya meluas hingga ke harga pangan, biaya pendidikan, hingga biaya produksi. Kelompok yang paling rentan menjadi korban adalah generasi muda dan anak-anak, di mana daya beli keluarga semakin tergerus. Di sinilah peran negara diuji; bukan hanya sebagai penonton, melainkan pelindung aktif yang mampu membentengi ekonomi rakyat kecil.
Salah satu jawaban strategis menghadapi tantangan tersebut adalah melalui program peningkatan gizi rakyat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini harus dipahami bukan sebagai bentuk amal semata, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Anak yang tumbuh dengan asupan gizi yang cukup adalah calon pemimpin, ilmuwan, dan tenaga kerja produktif masa depan. Ketika ekonomi sedang tertekan, memprioritaskan anggaran untuk kesehatan dan gizi anak adalah bentuk kedaulatan yang paling fundamental, karena bangsa yang gagal memberdayakan generasinya akan kehilangan masa depannya.
Namun, upaya pemenuhan kebutuhan pangan saja tidak cukup tanpa didukung oleh kemandirian ekonomi yang kokoh. Hadirnya Koperasi Desa Merah Putih menjadi terobosan penting untuk menaikkan taraf hidup rakyat secara kolektif. Berbeda dengan konsep koperasi konvensional, penamaan “Merah Putih” menegaskan identitas gerakan nasionalisme ekonomi. Koperasi ini berfungsi menggerakkan desa sebagai lumbung pangan, mengolah sumber daya lokal, memotong rantai distribusi yang panjang, serta memperkuat posisi tawar petani dan nelayan agar tidak mudah terguncang oleh pasar global.
Tiga hal utama yang menjadi sorotan saat ini—tekanan nilai tukar Rupiah, program Makan Bergizi Gratis, dan pendirian Koperasi Desa Merah Putih—sebenarnya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi. Pelemahan mata uang menjadi tantangan yang menekan harga kebutuhan pokok, sementara program gizi menjadi benteng pelindung bagi generasi muda. Di sisi lain, koperasi desa hadir sebagai solusi sistemik agar ketahanan pangan dan ekonomi rakyat tidak terus-menerus bergantung pada fluktuasi eksternal yang sulit dikendalikan.
Refleksi Kebangkitan Nasional tahun ini seharusnya tidak hanya berhenti pada euforia pengibaran bendera atau parade seragam. Makna sesungguhnya terletak pada keteguhan hati untuk menjaga tunas bangsa; memastikan mereka tumbuh sehat dan cerdas di tengah kesulitan, sekaligus merancang sistem ekonomi yang berdaulat dari akar rumput. Kedaulatan sejati bukan hanya kemampuan menolak intervensi asing, tetapi juga kemampuan memastikan seorang ibu di pelosok desa bisa tersenyum melihat anaknya tumbuh kuat dan desanya hidup mandiri.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026. Mari kita jaga tunas bangsa dengan penuh kasih, dan tegakkan kedaulatan negara dengan kerja nyata.













