Proyek Precast Irigasi APBN Senilai Rp195 Juta di Pekon Nusawungu Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

PRINGSEWU, infoliputan.com – Pembuatan beton pracetak atau precast untuk saluran irigasi yang bersumber dari anggaran APBN senilai Rp195 juta, yang dikerjakan oleh Kelompok Pelaksana Pengelolaan Air (P3A) Wono Tirto di Pekon Nusawungu, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Lampung, kini diduga tidak memenuhi standar spesifikasi yang telah ditetapkan. Temuan ini terungkap saat tim media melakukan peninjauan langsung ke lokasi pengerjaan pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Dari hasil penelusuran di lapangan, terlihat jelas adanya ketidaksesuaian pada kualitas bahan baku yang digunakan. Pasir merah yang menjadi bahan utama pembuatan precast tampak tidak berkualitas dan belum memenuhi standar yang seharusnya dipakai untuk pembangunan sarana irigasi. Penggunaan bahan berkualitas rendah ini tentu sangat mempengaruhi mutu dan ketahanan bangunan yang dihasilkan.

Selain kualitas pasir, komposisi campuran adukan semen juga dinilai kurang dan tidak sebanding dengan takaran yang seharusnya. Akibatnya, struktur beton precast yang diproduksi terlihat tidak kokoh dan dikhawatirkan tidak memiliki kekuatan serta daya tahan sesuai standar teknis. Jika dipaksakan digunakan, saluran irigasi tersebut berisiko cepat rusak dan tidak berfungsi maksimal dalam jangka waktu panjang.

Anggaran yang bersumber dari APBN sebesar Rp195 juta seharusnya dikelola secara akuntabel dan menghasilkan pembangunan yang berkualitas tinggi guna mendukung produktivitas pertanian masyarakat. Namun dugaan penyimpangan spesifikasi dalam pengerjaan ini memunculkan kekhawatiran bahwa dana publik yang cukup besar tersebut tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kualitas yang rendah juga berpotensi membebani anggaran pemeliharaan di masa mendatang.

Untuk menjaga keseimbangan pemberitaan dan mendapatkan penjelasan resmi terkait dugaan ketidaksesuaian tersebut, awak media berupaya menemui Ketua P3A Wono Tirto di kediamannya. Namun upaya konfirmasi tersebut belum membuahkan hasil karena yang bersangkutan tidak berada di tempat saat tim mendatangi lokasi. Sampai saat ini, pihak pelaksana proyek belum memberikan tanggapan maupun penjelasan terkait temuan di lapangan.

Masyarakat luas, khususnya para petani yang akan memanfaatkan saluran irigasi tersebut, sangat berharap pembangunan sarana pertanian ini benar-benar dikerjakan dengan standar kualitas terbaik. Mengingat anggaran yang digunakan adalah uang negara, wajar jika publik menuntut adanya transparansi dan pengawasan ketat agar setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan hasil yang nyata, awet, dan bermanfaat sepenuhnya.

Tim media berencana terus memantau perkembangan kasus ini dan akan berupaya kembali menghubungi pihak terkait untuk mendapatkan klarifikasi. Selain itu, awak media juga akan meminta tanggapan dari instansi pembina terkait guna memastikan proyek berjalan sesuai spesifikasi, layak digunakan, dan sepadan dengan nilai anggaran yang telah dialokasikan.

(Red)

error: Content is protected !!