Opini  

Pustakawan di Persimpangan Jalan: Antara Digitalisasi dan Hakikat Literasi

Opini

Oleh: Budi

Setiap tanggal 7 Juli, Indonesia memperingati Hari Pustakawan Nasional. Tahun 2026 ini, peringatan tersebut mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak” ——sebuah seruan yang mengajak seluruh pustakawan untuk tidak sekadar menjadi pengelola koleksi, melainkan agen perubahan yang hadir di tengah masyarakat. Di era di mana informasi mengalir deras tanpa batas, tema ini terasa semakin relevan. Namun, di saat yang sama, dunia justru menyaksikan fenomena menarik: Swedia—negara yang dulu menjadi kiblat digitalisasi pendidikan—kini kembali ke buku dan pena, meninggalkan layar demi menyelamatkan literasi.

Di persimpangan jalan ini, di manakah seharusnya pustakawan berpijak?

Digitalisasi: Sebuah Keniscayaan yang Tak Terbantahkan

Pustakawan masa kini tidak bisa lagi dibatasi pada urusan koleksi fisik semata. Tuntutan zaman mengharuskan pustakawan bertransformasi menjadi kurator digital, fasilitator literasi informasi, dan mitra riset bagi masyarakat.

Data menunjukkan bahwa layanan digital Perpusnas mencatat tingkat kunjungan rata-rata tiga kali lipat dari layanan onsite. Ini bukan sekadar angka; ini adalah cermin perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Di tengah gempuran hoaks dan misinformasi, pustakawan dituntut tampil sebagai penjaga nalar bangsa——penyaring informasi yang valid di tengah banjir opini tidak berdasar.

Lebih dari 70 persen pustakawan dalam sebuah penelitian mengaku telah menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi kerja, sementara 58 persen mengaku AI membantu mereka lebih produktif. Perpusnas pun telah menggelar lokakarya pemanfaatan AI bagi pustakawan sebagai bagian dari upaya transformasi menuju smart library. AI bukanlah ancaman, melainkan alat. Pustakawan yang cerdas akan menjadikannya asisten——bukan pengganti.

Namun, Swedia Mengingatkan Kita pada Sesuatu yang Fundamental

Swedia, negara yang pada 2009 menjadi pelopor digitalisasi pendidikan, kini membalikkan arah kebijakannya. Pemerintah Swedia mengembalikan pembelajaran di sekolah menggunakan buku fisik dan pena, meninggalkan lingkungan digital. Kebijakan ini dirancang untuk menaikkan kembali tingkat melek huruf yang sempat menurun. Mereka bahkan mengalokasikan lebih dari 2,1 miliar krona (sekitar Rp 3,9 triliun) untuk investasi buku teks dan panduan guru.

Apa yang mendasari keputusan drastis ini? Hasil riset.

Skor PISA Swedia mengalami penurunan signifikan dalam bidang matematika dan membaca pada 2022. Studi ilmiah menunjukkan bahwa lingkungan tanpa layar memberikan kondisi yang lebih baik bagi anak-anak untuk berkonsentrasi dan belajar membaca serta menulis. Menteri Sekolah Swedia, Lotta Edholm, menegaskan: “Kondisi terbaik untuk mengembangkan keterampilan dasar membaca dan menulis adalah di lingkungan analog dan menggunakan alat analog.”

Belanda pun mengikuti jejak serupa. Kebijakan pelarangan HP, smartwatch, dan tablet di ruang kelas, koridor, dan kantin sekolah telah diterapkan secara nasional. Hasilnya signifikan: tiga perempat sekolah melaporkan peningkatan konsentrasi siswa, sementara hampir dua pertiga sekolah menyebut iklim sosial di lingkungan pendidikan menjadi jauh lebih baik. Kasus perundungan pun menurun.

Pemerintah Swedia bahkan menggulirkan slogan “från skärm till pärm” ——dari layar ke map. Sebuah gerakan yang mengingatkan kita pada satu hal sederhana: layar tidak pernah bisa sepenuhnya menggantikan sentuhan kertas, goresan pena, dan kedalaman berpikir yang lahir dari membaca buku nyata.

Pustakawan di Era AI: Penjaga Nalar, Bukan Sekadar Pengelola Data

Di tengah gempuran kecerdasan buatan, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengingatkan bahwa pustakawan adalah penjaga nalar bangsa. “Teknologi mampu menghadirkan informasi dalam hitungan detik. Namun tidak semua informasi adalah produk pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Di sinilah pustakawan hadir sebagai penjaga nalar, penghubung manusia dengan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Inilah inti dari relevansi profesi pustakawan di era AI. AI dapat mencari, AI dapat merangkum, AI bahkan dapat menulis. Tapi AI tidak dapat membedakan mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan tanpa bimbingan manusia. AI tidak dapat menumbuhkan kebijaksanaan——karena kebijaksanaan lahir dari proses membaca yang mendalam, merenung, dan menghubungkan gagasan, bukan dari sekadar mengonsumsi konten digital secara instan.

Pustakawan dituntut untuk cerdas dalam mengikuti perkembangan zaman agar tetap eksis. Namun kecerdasan itu bukan berarti meninggalkan akar. Justru sebaliknya: pustakawan harus mampu menjembatani——menghadirkan teknologi tanpa kehilangan esensi literasi, memanfaatkan AI tanpa melupakan kedalaman membaca.

Perlunya Riset: Antara Gawai dan Literasi di Indonesia

Fenomena Swedia dan Belanda membawa pertanyaan penting bagi Indonesia: sejauh mana penggunaan gawai memengaruhi tingkat literasi anak-anak kita? Data Perpustakaan Nasional menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional baru berada pada angka 54,8. Masih ada ruang besar untuk perbaikan.

Namun, apakah kita punya riset yang memadai tentang pengaruh gawai terhadap fokus dan kemampuan membaca siswa Indonesia? Swedia tidak mengambil keputusan gegabah. Mereka melibatkan peneliti akademis, organisasi pengajaran, lembaga publik, dan pemerintah daerah dalam konsultasi sebelum mengubah kebijakan.

Indonesia membutuhkan riset serupa. Bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk mengambil keputusan berbasis bukti. Berapa jam layar yang masih aman bagi anak usia sekolah? Apakah pembelajaran digital benar-benar meningkatkan pemahaman atau justru menurunkan daya serap? Di titik mana penggunaan gawai mulai mengganggu konsentrasi?

Pustakawan, dengan posisinya yang dekat dengan dunia literasi dan pendidikan, seharusnya menjadi pelaku utama dalam riset-riset semacam ini——bukan sekadar pelaksana kebijakan, tetapi pengkaji dampak kebijakan terhadap budaya baca masyarakat.

Kesimpulan: Pustakawan yang Bijak di Tengah Dua Arus

Hari Pustakawan Nasional 2026 mengajak kita merenungkan satu hal: pustakawan adalah profesi yang tidak pernah kehilangan relevansi, selama ia mampu membaca tanda-tanda zaman.

Digitalisasi adalah keniscayaan. AI adalah alat yang powerfull. Ekosistem digital yang inklusif adalah cita-cita yang mulia. Namun, semua itu tidak boleh membuat kita lupa pada hakikat literasi itu sendiri: membaca secara mendalam, berpikir secara kritis, dan menulis dengan penuh makna. Swedia dan Belanda telah mengingatkan dunia bahwa layar berlebihan bisa menjadi bumerang bagi konsentrasi dan kemampuan berpikir anak-anak.

Pustakawan yang adaptif adalah pustakawan yang tahu kapan harus menggunakan teknologi dan kapan harus kembali ke kertas. Pustakawan yang berdampak adalah pustakawan yang mampu menjembatani dua dunia——dunia digital yang serba cepat dan dunia literasi yang menuntut kedalaman. Pustakawan yang terlibat adalah pustakawan yang tidak pernah berhenti belajar, meneliti, dan beradaptasi dengan perubahan.

Seperti kata Menteri Sekolah Swedia, “Membaca buku sungguhan dan menulis di kertas sungguhan, serta berhitung dengan angka sungguhan di kertas sungguhan, jauh lebih baik jika Anda ingin anak-anak mendapatkan pengetahuan yang mereka butuhkan”.

Di era di mana informasi datang dalam hitungan detik, pustakawan adalah penjaga ruang hening untuk berpikir. Dan ruang hening itu——entah di perpustakaan digital maupun di rak buku fisik——tetaplah jantung dari peradaban manusia.

Selamat Hari Pustakawan Nasional 2026. Terlibatlah, bersinergilah, dan berdam paklah.

error: Content is protected !!